Jumat, 16 Desember 2016

Grebeg (Gunungan)

            Pagi ini aku keluar untuk melihat – lihat lapangan Sewandanan sebelah timur yang sudah penuh dengan orang -  orang menikmati sarapan pagi. Hal ini memunculkan ideku untuk menuliskan tugas Ilmu Sosial dan Budaya dasar yang masih kurang. Di lapangan ini, aku berbincang dengan para pedagang rujak sedang mengolah adonan es yang membuat badan mereka seperti binaraga. Dan setelah secangkir kopi yang aku nikmati sudah habis, ku bergegas pulang untuk mencoba mengerjakan tugas seorang mahasiswa.

            Lapangan sewandanan terletak di depan Kraton Pakualaman, atau bisa jadi disebut sebagai alun – alun Pakualaman. Tempat ini dulunya adalah tempat dimana setiap sore aku bermain sepak bola dengan teman – temanku. Namun sejak tahun 2004an tempat ini sudah berubah dengan adanya pedagang kaki lima yang menyediakan makan pagi hingga makan malam. Sehingga tidak memungkinkan lagi untuk para bocah kecil bermain di lapangan ini.

            Dan jika adanya hari raya islam seperti Idul fitri, Idul adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW tempat ini dipenuhi oleh para pedagang. Dari pedagang makanan, mainan, pakaian, kaset DVD dan masih banyak lagi. Sehingga pada hari – hari tersebut dapat membuat dompet tipisku kian menebal. Karena adanya acara ini, aku selalu membuka usaha baru yaitu jasa penitipan motor, atau biasa disebut tukang parkir.

            Tidak hanya itu yang membuat keteratarikan masyarakat untuk datang ke lapangan Sewandanan ketika hari raya tiba. Adanya upacara adat “Grebeg” atau sering disebut “Gunungan” selalu mengiringi hari - hari raya tersebut. Dalam setahun terdapat tiga kali grebeg, yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Besar, dan Grebeg maulid. Grebeg tersebut diadakan ketika berkatian dengan hari raya Islam. Grebeg Syawal untuk memperingati hari raya Idul Fitri serta sebagai bentuk ungkapan syukur telah melewati bulan Ramadhan sekaligus menyambut datangnya bulan syawal, Grebeg besar diselenggarakan untuk menyambut hari raya Idul Adha yang terjadi dalam bulan Zulhijah, yang dalam kalender Jawa sering disebut sebagai hari besar, sedangkan Grebeg Maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Acara grebeg ini diselenggarakan tepat pada hari raya tersebut, kecuali untuk hari raya Idul Fitri, yang biasanya diselenggarakan di hari kedua. Mungkin karena dihari pertama di khususkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga.

            Grebeg ini adalah budaya atau upacara adat kuno yang sudah turun temurun, atau sudah dari Sultan HB yang dulu – dulu hingga sekarang masih diselenggarakan untuk menjaga kebudayaan asli Yogyakarta yang bertujuan untuk senantiasa menyebarkan dan melindungi agama Islam. Namun sampai sekarang aku belum tahu pasti kenapa acara ini dinamai “Grebeg”. Karena dari kecil hanya nama gununganlah yang aku ketahui, yaitu sebuah hasil pertanian yang disusun seperti gunung.

Dua grebeg yang dibuat ini akan di doakan dan diiringi para bergodo atau prajurit kerajaan untuk di bagikan kepada masyarakat di alun – alun utara (Kraton Yogyakarta) dan yang satunya di lapangan Sewandanan (Kraton Pakualaman). Sebagian besar masyarakat yang ikut merebutkan grebeg ini percaya bahwa jika mereka mendapatkan salah satunya akan membawa berkah. Bahkan bambu yang dijadikan kerangkanya pun kadang ada yang membawanya pulang, ketika ditanya “buat apa mas?”, mereka menjawab “buat jimat hahaha”.

Aku tidak begitu yakin dengan mereka bahwa merka benar – benar percaya dengan mitos ini, namun dulu ketika aku ikut merebutkan gunungan tersebut hanya sekedar iseng aja, bukan karena apa –apa. Dan pada waktu itu aku mendapatkan ento – ento (seperti ketela yang dikeraskan) ada yang mau membelinya. Dia adalah seorang pedagang dari luar jawa, kalau aku lihat dari logatnya sepertinya ibu ini berasal dari Batak. Aku tidak tahu apa penyebab ibu ini begitu semangat untuk membeli barang tersebut. Mungkin telah mendengar cerita rakyat atau mitosnya bahwa barang ini dapat membawa berkah.

Itulah sedikit cerita tentang Grebeg atau Gunungan yang telah menjadi acara adat atau budaya lama yang masih terjaga. Namun penulis mohon maaf sebesar – besarnya jika ada salah informasi dan sebagainya, karena semua ini hanyalah berdasarkan dari pengetahuan kecil sang penulis, yang berharap dapat membatu untuk sedikit mengenal upacara adat khas Yogyakarta ini.


Rabu, 07 Desember 2016

Our Culture Our Future

            Tumben sekali pagi ini tidak hujan, biasanya ketika bangun pagi sudah terdengar rintik hujan yang mengawali pagi yang penuh deadline. Dengan terpaksa pakai mantel hujan – hujanan menepati janji dengan dosen. Tapi sekarang ? disaat tidak ada apapun, pagi ini begitu cerah, wangun !. Tapi aku orapopo. Biar tidak merasa dikerjain sama hujan, aku langsung mencari kesibukan entah apapun itu.
            Setelah sarapan dan mandi pagi, ku menikmati secangkir teh hangat. Kemudian teringat tentang tugas pengiriman blog yang masih belum memenuhi syarat. Dengan bismillah ku mencoba mengambil sebuah peralatan tempur ku. kemudian ku ambil sebatang rokok  sisa begadang tadi malam, sebagai modal awal melakukan pengetikan.
            Selasa, 6 desember 2016 telah diadakan seminar khusus untuk mahasiswa Fakultas Sosial dan Ekonomi di kampus Respati Yogyakarta yang berjudul “ Our Culture, Our Future “. Event ini bertujuan untuk mempersatukan berbagai macam budaya. Tidak hanya se bangsa Indonesia, namun kali ini menampilkan orang – orang hebat dari berbagai macam Negara lain, dan para mahasiswa asing yang mendapatkan beasiswa untuk mempelajari bahasa dan budaya di Indonesia.
            Walaupun acara ini dimulai pada siang hari, namun aku sebagai panitia yang istimewa harus datang lebih pagi. Jam setengah sembilan ku selah montor tua ku, dan berangkat menuju kampus 1 Universitas respati Yogyakarta. Baru beberapa detik dari rumah, sapaan yang kuberikan secara rutin ketika berangkat kepada si juragan rujak, yang setiap beli dan mau bayar dia bilang,
“ Weleh koeki malah ngopo? Uwis rasah “. Yang artinya “ Weleh kamu tu malah ngapain? udah  gausah“.
“ Walah malah rapenak dewe ki aku”. Artinya “ walah malah enggak enak sendiri nih aku”.
“Rapenak goyangke !”.
“Hahahaha.
            Tapi tidak setiap hari aku minum / makan gratis ditempat ini, nggak enak lah ya kalau tiap hari gratisan terus, ntar dia bisa gulung tikar nanti. Kadang uang nya aku taruh dibawah gelas / piring tanpa bilang mau bayar. Percakapan diatas aku lakuin cuma kalau lagi pengen gratisan aja hehehe.
            Entah mengapa di Jogja banyak kutemui orang seperti ini. Jika mempunyai teman berjualan makanan / minuman, kadang mereka merasa sungkan untuk menerima uang bayaran dari teman sendiri. Setidaknya harga yang diberikan lebih murah atau kadang malah seikhlasnya kita mau bayar berapa.Hal tersebut sepertinya sudah membudaya sejak zaman penjajahan belanda, mungkin. Menurutku kasus ini seperti “Perasaan tidak enak karena temen sendiri masa iya disuruh bayar”. Bertemu dengan “Perasaan tidak enak juga kalau tiap hari di gratisin”. Itu mungkin salah satu contoh dari “ Jowo Anggone Roso “. Yang dimana orang jawa melakukan setiap hal menggunakan perasaan. Tetapi aku tidak tahu,  mungkin di tempat lain juga melakukan hal sama. Ehh, ini kok jadi ngomongin tukang rujak gini sih? Maaf ya.
            Pukul 09.12 ku sampai parkiran motor dan menuju lapangan badminton untuk melihat dan menyemangati latihan terakhir mereka. Eh tidak hanya itu saja sih, aku juga berperan dalam drama ini lho, walaupun hanya tukang menempatkan dan menarik bangku disetiap adegan yang berkelanjutan. Yaa hitung – hitung latihan untuk menjadi orang yang di balik layar, alias wong sing ora ketok.
            Kemudian menjelang acara dimulai, aku dusuruh salah satu dosen untuk menjadi security coba. Yang agak geli nya lagi, menjadi security buah. Iya disitu aku disuruh untuk menjaga agar tidak ada karyawan / dosen yang mengambil sebelum acara dimulai. Disitu terdapat makanan angkringan dan berbagai macam buah / rujak. Banyak karyawan, dosen, teman – teman dari Fakultas Kesehatan yang tergoda dan bertanya untuk meminta. Padahal udah aku buatkan tulisan besar – besar “ NOT for SALE, Guest Only “ masih aja mereka pura – pura tidak baca. Mungkin karena mereka melihat dengan lahapnya aku menyantap buah nanas di depan mereka. “Emot ketawa jahat”
            Setelah dimulainya acara, dan suksesnya drama yang telah kami tampilkan, diperkenalkan lah kami dengan orang – orang hebat. Salah satu nya adalah Mr. Patrick, yang suka dan menginginkan dipanggil Mas Petruk. Dia adalah orang asing yang sudah puluhan tahun tinggal di jogja dan mendalami semua budaya jawa. Dari bahasa, tingkah laku, budaya, sastra jawa, aksara jawa, ilmu kejawen dll.
            Dia merasa tertarik dengan budaya jawa karena apa yang diajarkan disini tidak ada di tanah kelahirannya. Dengan budaya barat yang begitu bebasnya, dia tertarik mendalami budaya jawa yang menunjung tinggi unggah – ungguh, kesopanan dalam berbahasa dan tingkah laku, yang katanya membuat dia merasa hidup lebih bermakna. Dia merasakan jati dirinya ada disini, di Jogjakarta. Sehingga saat ini terus menerus dia mendalami kebudayaan orang Jawa yang aku yang asli kelahiran Jogja kalah.
            Dengan dipertemukannya dengan Mas Petruk ini membuatku sadar diri. Ternyata tanpa kusadari bahwa diriku telah lupa dengan budayaku sendiri. Tanpa kusadari diriku perlahan melukapan kebudayaan ku sendiri. Aku justru malah terlena dengan kebudayaan orang lain/orang asing. Dengan teguran secara tidak langsung ini, dengan bumingnya anak muda yang bangga menggunakan / menerapkan budaya asing. Aku akan mencoba tetap bangga menerapkan dan mencintai budaya tanah air ku sendiri.
            Sebetulnya tidak hanya Mas Petruk yang menjadi narasumber pada waktu itu, masih ada 2 atau 3 lagi yang aku lupa namanya. Karena pada saat itu aku sedang asik mengobrol dengan para wanita cantik dari korea selatan dan vietnam. Ya itung – itung buat ngasah bahasa inggris kan, walaupun masih amburadul. Aku sempat heran dengan salah satu dari mereka, padahal baru 3 bulan di Jogja, dia dapat berbahasa Indonesia yang menurutku lancar.
            Kami berdua saling berbincang, aku menggunakan English, dia menggunakan Bahasa. Ketika sedang seru – serunya, datanglah salah satu kakak tingkatku nimbrung ikut ngobrol. Memang sih dia menurutku udah lancar sekali talk English nya, aku berada di level bawahnya jauh. Sangat ku kagumi keahliannya yang sangat percaya diri untuk sok akrab dengan siapapun, dengan orang yang belum dia kenal sekalipun.
            Dia mulai ngobrol, membanggakan dirinya, yang baru berusia belia udah kuliah di semester lima. Dan satu kalimat yang sampai saat ini masih ku ingat ketika dengan bangganya dia mengucapkan “Hello?? My friends is not only Indonesian You know?? I have lots of friends from the other country”. Pengen sekali rasanya, pengen banget bisa seperti dia. Lancar dalam speaking maupun writing. Yang dapat mempunyai teman dari Negara lain. Namun apalah dayaku yang terlambat sadar akan pentingnya sebuah ilmu untuk kehidupan masadepan.
            Dan setelah kedatangannya aku lebih banyak diam dan menyimak, karena disetiap perkataanku dipotong olehnya. Oleh dia yang sudah lancar berbaha Inggris, dan tidak memberikan aku kesempatan untuk belajar. Dan akhirnya aku memilih untuk memperhatikan lagi si narasumber berbicara sambil menikmati sosis yang aku genggam.
            Ah kalau gini terus, kapan aku bisa pintar seperti mereka ya ? Temen sekelas pada ikut les yang tiap bulan harus membayar. Aku ? hanya bisa berjuang sendiri dan berdoa, semoga dapet IPK lebih dari tiga haha. Dan mohon maaf sebelumnya untuk sementara ini curhatanku sampai disini dulu. Karena barusan Hari Kamis pukul 09.18 AM salah satu Dosen menghubungiku, bahwa beliau bilang lagi butuh bantuan saat ini. Jadi cerita ini mungkin akan berlanjut lagi nanti malam.


Senin, 14 November 2016

            
Perpustakaan Unik di Yogyakarta

            Malem minggu tanggal 12 November 2016 aku memilih bermesraan dikamar bersama laptop untuk melatih ketrampilan tangan dalam menulis sesuatu yang supaya dapat menghasilkan sebuah tulisan yang dapat kamu baca. Meskipun mataku terus mengajak untuk beranjak tidur, namun pemikiranku memaksa ku untuk menuliskan perjalananku hari ini.
            Jalan – jalan akhir pekan ku berawal di hari sabtu pagi pukul tujuh. Aku bergegas menuju kampus untuk menemui dosen dan teman – temanku untuk menepati janji yang sudah disepakati. Kami sudah membuat janji bahwa hari ini aka adan outing class di salah satu tempat yang dosenku bilang sih semacam perpustakan yang bernama “ I-Boekoe “. Tempat ini berada di daerah bantul, aku lupa alamat lengkapnya apa yang jelas dekat kampus ISI. Sesampainnya di kampus aku disambut dengan tawaan konyol dari teman – temanku. Kemudian ku lepas helm dan jalan menuju mereka dan dengan wajah polos ku berkata, “ Maaf saya terlambat hehe “.  
Lalu kami ngobrol tentang perjalanan yang akan kita tempuh, dan kami mengatur formasi atau strategi agar dalam perjalanan dapat sampai ke tujuan dengan lancar dan aman. Karena aku asli Jogja, yang dosenku berharap aku dapat menjadi tour guide ( penuntun arah ) yang baik. Beliau menyuruhku agar dapat memimpin perjalanan di barisan paling depan dan beliau berada di paling belakang. Katanya agar kejadian tahun lalu yang terpencarnya mahasiswa yang saling nyasar kesana kemari tidak terulang lagi di tahun ini. Beliau bilang “ Nanti sebelum ISI ada akbid kamu berhenti disitu saja ” , “ Siap pak!”
Setelah siswa terakhir yang kita tunggu – tunggu akhirnya datang juga, kami berangkat bagaikan YRKI ( Yamaha Rx King Indonesia ) yang sedang touring luar kota. Kami berangkat beriritan rapi dan setelah kurang lebih 15 menit perjalanan beliau mendekatiku dan bertanya “ Mau kemana pli? “. “ SMSR kan pak ?” dengan tertawa keras Miss Bee ( Asdos yang membonceng dosenku ) mengejek pernyataanku yang salah. Dengan itu aku jadi ingat, bukanlah SMSR yang kan dituju, tapi melainkan Isi ( Institut Seni Indonesia ) dan membuat kami terpaksa untuk berbalik arah. Entah mengapa pada saat itu yang teringat di otak tololku adalah SMSR, mungkin karena keinget terus waktu sering jemput kamu di SMSR hehe.
Setelah sesampainya disana seketika dalam hati, “ Wow. Tempatnya asri sekali, lantas saja mereka dapat membaca atau menulis dengan waktu yang lama”. Tempat ini adalah semacam perpustakaan yang tidak seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya. Tempat ini begitu indah, nyaman, dan sejuk. Karena disetiap sudut di lengkapi dengan alaminya daun pepohonan. Hektar sawah menjepit bangunan ini, yang disebelah kanan adalah sawah jagung sedangkan sawah padi disamping kiri. Dan ketika kamu berada di lantai atas, pemandangan alami nan segar akan membangkitkan semangat, perasaan, ketenangan, dan mood kamu untuk menuangkan ide dan pikiran kedalam tulisan. Tidak seperti keadaan dirumahku, yang dimana aku harus malam – malam untuk mengetik agar tidak diganggu adek atau gangguan yang lain.
Disana juga terdapat kafe yang berada di bagian paling depan bangunan. Kafe ini dibuka dari jam lima sore hingga jam dua belas malam. Dibagian kafe ini terdapat lukisan seseorang yang menginspirasi untuk menjadikan kafe ini dinamai kafe Adil. Terinspirasi oleh salah satu karya dari Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Adil sejak dalam pikiran. Jadi disini kamu dapat membaca buku atau menulis sesuatu sembari menikmati hangatnya secangkir kopi. Atau dapat mengajak pacar atau gebetan kamu kesini. Kan keren pacaran sambil baca buku, daripada saling pegang gadget.
Kemudian di perkenalkan lah kami dengan direktur perpustakaan tersebut, yang kemudian menuntun kami untuk memasuki ruangan pertama, yaitu ruang arsip. Dapat terlihat arsip – arsip tertata rapi disetiap rak yang melekat di setiap sisi dinding ruangan tersebut, dan bertumpuk tinggi kurang lebih 3 meter tingginya. Arsip yang kebanyakan berupa Koran dari tahun 1910 – 2000an yang terjaga dengan baik sehingga dapat kamu baca dengan jelas. Dengan koran – koran lama ini, kita dapat menggali sejarah politik, kasus, dan informasi – informasi terdahulu yang dapat kita jadikan sebagai pengetahuan baru yang nantinya kita rangkum, dan membuatnya menjadi sebuah buku politik, sistem, atau informasi yang mendetail.
Disana terdapat juga seni rupa yang berbentuk lukisan tokoh atau para pahlawan yang mempengaruhi negeri ini seperti Soekarno, Muh Hatta, H.O S Cokroaminoto dan masih banyak tokoh lain yang semuanya berjumlah 20 lukisan. Detail lukisan ini berupa tulisan biografi pendek yang dengan kreativitas dan dominasi warna sehingga membentuk pola yang menyerupai wajah mereka. Dan lukisan ini menurutku cukup besar, karena dengan ukuran kurang lebih 2,5m x 2m. Masih banyak lagi lukisan logo, mural, pesan kata – kata, dan seni rupa yang lain telah menyelimuti disetiap dinding di bangunan ini yang dapat kamu nikmati.
Setelah melihat – lihat sekitar, pak direktur mengajak kami duduk di lantai atas dan kami mendengarkan sedikit cerita atau sejarah berdirinya perpustakaan ini. Perpustakaan ini sebelumnya berada di nitikan, dan pindah disini karena dapat bantuan dari salah satu pelukis dari sumba yang bernama Galam Zulkifli.Organisasi ini terbentuk yang pada awalnya tidak memiliki modal capital, tapi memiliki modal cultural yang melimpah. Sehingga saat ini modal capital datang dengan sendirinya.
Disini terdapat juga progam – progam yang dapat kita ikuti. Yang pertama ialah kelas menulis essay. Di kelas ini kamu dapat belajar dan di bimbing bagaimana menulis sebuah artikel atau buku dengan baik dan benar yang nantinya akan di buatkan sebuah buku karya kita sendiri. Kan keren kalo kita membuat sebuah karya. Nama kita akan dikenal, dicatat oleh sejarah, ini adalah salah satu cara untuk memanjangkan usia. Karena kita mati meninggalkan nama. Untuk apa kita punya nama jika tidak dikenal apalagi di kenang.
Atau bisa juga jika kamu menginginkan untuk diajarkan menulis kreatif mereka para pembimbing akan dengan senang hati mengajarkan kalian tentang teori – teori dan menuntun kalian untuk menulis kreatif yang menarik. Kemudian ada kelas radio buku, di kelas ini kamu akan diajarkan bagaimana menjadi penyiar secara bergantian. Yang diharapkan kedapanya dapat mengurusi segala aktifitas di radio buku. Kelas ini telah mempunyai banyak volunter untuk itu.
Kelas ini hanya bersyaratkan dengan mengumpulkan sepuluh orang yang bersemangat, kita dapat membuat satu kelas dan semua ini free tidak dipungut biaya sepersen pun, hanya saja mungkin nanti untuk membeli buku sebagai bahan atau materi untuk berdiskusi. Kelas ini memang tidak dikenakan biaya, namun sebuah komitmen lah yang harus anda bayar ketika mengikuti kelas ini. Apa mereka tidak rugi ya ? “ Ketika kita berbuat baik, sesuatu yang baik pula akan menimpa kepada kita. Kebaikan sudah pasti menular, itu sudah hukum alam “ seruan pak direktur kepada kami yang dapat membuatku untuk mencatat kata – kata ini.
Jujur saja dengan kunjungan ini memunculkan semangatku untuk mulai membiasakan membaca buku setiap hari. Di tempat ini membuatku sadar sebuah buku dapat meningkatkan pengetahuan kita lebih luas lagi. Membuat kita tahu akan banyak hal. Disini kucoba membaca bermacam banyak buku. Bukunya keren, asik – asik semua yang sampai membuatku senyum – senyum sendiri dan kadang ada yang membuatku pusing juga. Namun kenapa semua ini masih tetap saja belum membuatku menjadi jatuh cinta kepada buku seperti cintaku kepada musik rock n roll.







Rabu, 12 Oktober 2016

Mari Kita Bersyukur

Hari ini, selasa pukul 5.06 PM ku berbaring sambil senyam senyum sendiri karena memandangi foto yang membuat hatiku berkembang biak. Yaaa pasti kamu tau laah bagaimana rasanya kalo kamu, “ Take a picture with someone whom you love but she's not yours “. Eeiitss ini niatnya mau ngerjain tugas kok malah jadi curcol yaakkk. Yukk kembali fokus broow. Monggo di simak sampek klimaks.

Selasa pagi pukul 4.46 AM ku dibangunkan oleh Raja Rembulan yang sudah ku pinta tadi malam untuk membangunkan. Karena di pagi yang cerah ini aku harus berada di kampus untuk mengikuti acara wisuda kakak angkatan sebagai pelontar suara di kelompok paduan suara kampus ku. Setelah beberapa menit ku memanggil nyawa - nyawa ku yang telah pergi ke alam mimpi untuk kembali ke tubuhku yang imut ini. Dengan wajah penuh dosa ku ambil air wudhu untuk menjalankan kewajiban seorang anak yang solehah :p. Kemudian ku melakukan gerakan yang sebenarnya aku sudah bosan. Karena di setiap pagi orang - orang melakukan gerakan ini untuk membersihkan badan. Setelah mandi ku makan makanan khas jogja yang manis dan gurih kayak kamu :p.
Setelah mengenakan kemeja dan jas dengan rapi. Kumelihat kaca dan, " Waoow, ternyata aku gk kalah ganteng dengan Alliando De' Caprio ya :) ". Kemudian ku tarik gas menuju kampus dengan kecepatan sederhana. Setelah sampai di TKP ku lihat mereka para teman - temanku yang sudah seperti bidadari sedang mempercantik diri sedang mengoleskan bahan yang tidak alami ke wajahnya sendiri.

Dan kulihat jam di dihape menunjukkan pukul 05.45. Kemudian ku bakar sebatang rokok untuk pemanasan dan kubertemu dengan seorang temanku dari papua sebut saja namanya Oge. Dengan senyuman terbaik kusapa dia..

" Hey Oge "
" Eh halo kipli " ku raih tanganya dan bertanya " Loh kamu masuk jam berapa ? "
" Sa masuk jam tujuh " yang dia bilang “ Sa “ itu sama dengan “ Saya
" Waow rajin sekali kamu masuk jam tujuh jam enam udah datang "
" hahaha tidakk.. sa berangkat dari asrama jam lima, saya jalan kaki "
" ohh. Benarkah ? Kamu emang gini ". Sambil ku berikan dua jempolku untuk dia. 


Mendengarnya.. seperti tuhan sedang membukakan mataku lebar - lebar. Kita yang memiliki kendaraan sendiri untuk pergi bersekolah ataupun kuliah kadang masih mengeluh. Sedangkan Oge ? Dia jalan kaki, dan dia berangkat satu jam lebih awal. Dengan ini kita seharusnya malu jika tidak bersyukur kepada Big Boss yang diatas, apalagi untuk mengeluh. Karena jika nurutin nafsu, pasti nggak ada habisnya. Maka " beruntunglah kalian, beruntunglah aku. Seterusnya akan selalu begitu, jika kita melihat ke bawah. Akan selalu merasa beruntung dan terus bersyukur ".Kata – kata yang kuambil dari caption foto instagram seorang pendaki gunung yang memamerkan fotonya di puncak Gunung Sindoro.

" haha kau mau ikut apa kah?, kok semua pake jas ? " dia bertanya sambil melirik temanku yang lagi dandan.
"Oh ini aku ada acara wisuda, aku ikut UKM paduan suara. Kamu ikut UKM apa aja? "
" oh sa tidak ikut apa - apa. "
" lho kenapa? Ikutlah suatu organisasi untuk belajar ngomong. Biar nggak jadi orang pemalu. "
" haha iyaa.. "
" kamu prodi apasih? Lupa aku hehe "
" Akuntansi.. saya prodi akuntansi.."
" Oh susah nggak materi nya ? "
" hueee susahnya minta ampun broo "
" hahaha untung aku kemarin nggak jadi ambil akuntansi "
" he iya ini.. sepertinya saya salah jurusan..pengen ganti tapi bisa tidak ya? "
" loh emang dulu sma nya apa? 

" saya IPA hehe"

" oh nggak papa oge, namanya orang belajar emang gitu. Karena untuk mencapai kesuksesas itu butuh proses yang panjang. Uang bisa dicari brow.. tapi kalau umur, gabisa di ulang lagi. Maka manfaatin waktu kita sebaik - baiknya ge... Aku bisa ngomong seperti ini karena dulu aku pernah ngulang sekolah karena di DO. Karena sakit banget brow ketika teman - teman seangkatan ku udah lulus, aku masih nunggu tahun depan ". 
" ohh iya benar juga kamu pli.. "

" iya ge.. aku yakin ketika kamu memutuskan ambil jurusan itu pasti kamu sudah mempertimbangkannya kan?" Dia mengangguk seakan menunggu apa yang akan aku ucapkan selanjutnya.

 " yaudah deh.. coba berjuang aja dulu, kita ini laki - laki. Belajar bertanggung jawab atas apa yang telah kita pilih. Ketika udah memilih untuk “ fight “, yaudah kita coba bertarung sampai selesai. "
" eiseh.. iya iya benar kamu pli ".

" terus di papua TK tidak? ".
" ada.. tapi sa tidak, saya langsung SD ".
" em.. Enam tahun juga kan disana? “.
" iya pli enam tahun juga, tapi disana gurunya jarang datang... jadi kita pertemuan seminggu sekali "
" oh disana kekurangan guru apa ?"
" tidak kok..."
Aku tidak tahu dia bohong atau tidak, tapi dia menjawab dengan tatapan yang polos seakan sedang menggambarkan suasana sekolah di kampung halamannya. 
 Jika aku dulu dari SD sampai SMK pertemuan kelasnya hanya seminggu sekali, aku kira aku akan menjadi manusia yang lebih bodoh dari aku saat ini.

Orang papua yang kutemui ini adalah sosok orang yang baik, lugu, dan polos. Seringkali ku perigatkan jangan sampai salah pergaulan dan selalu ingat orang tua dirumah. Beda halnya dengan orang papua yang nakal dan suka bikin onar. Karena orang yang bertipe tersebut, mereka - mereka yang serius ke jogja untuk mencari ilmu jadi terkena imbasnya. Ada yang cari kost jadi susah, di acuhkan lah, di jauhi lah. Itu semua karena ulah beberapa orang yang membuat nama papua menjadi tercemar.

Akan tetapi tidak masalah, tetaplah jadi orang baik. Ketika kita berbuat baik kepada siapapun, selalu menjaga perasaan, dan saling bergotong royong dalam kebaikan. Orang - orang tidak akan memperdulikanmu dari mana, anak siapa, agamamu apa, dan dari suku mana. Mereka akan tetap menjadi teman baik mu ^^

" Beruntunglah Kalian, beruntunglah aku. Seterusnya akan selalu begitu, jika kita selalu melihat kebawah. Akan selalu merasa beruntung dan terus bersyukur ". ( Kipley Gunung Sumbing, tgl 16 04 16 )

Sabtu, 08 Oktober 2016

Harmonis Nggak Harus Mewah



Rise up this morning, smiled with the risin sun.. three little birds. Sebuah lagu dari alm Bob Marley mengawali pagi ku yang penuh gairah. Hari ini, sabtu pukul 09.45 kumenunggu kedatangan temanku yang berjanji mau ngasih aku pekerjaan di pagi ini. Dengan seglintir lamunan kuteringat tugas dari salah satu dosen ku yang membuatku untuk membuka aplikasi memo di hape. Dan baru beberapa menit kumenunggu akhirnya temanku datang dan kita gaspol menuju TKP. 


Jujur aja ini pengalaman pertama ku untuk bekerja sebagai service AC. Tapi gamasalah, hitung - hitung buat nambah pengalaman dan ilmu baru. Setelah sampai tempat dimana lima AC yang harus kuperbaiki. Yaitu sebuah kost putra dimana hanya anak orang kaya yang mampu menyewa sebuah kamar disini. Tak perlu kujelaskan secara detail seperti apa yang ku kerjakan, yang jelas nyari duit itu nggak ada yang tidak membutuhkan perjuangan.


Sedikit pengalaman kerja yang udah aku telusuri. Dari tukang parkir, las karbit, nyablon, courier mengikuti berbagai macam event dan masih banyak. yang penting dapet duit gitu lah. Semua itu aku lakukan pada awal masuk di bangku kelas dua SMK setelah diriku mempunyai keinginan untuk melanjutkan jenjang studi ke perguruan tinggi. Karena jika aku sudah mulai masuk ke dunia perkuliahan, aku pasti membutuhkan yang namanya kendaraan pribadi. Kemudian dengan prinsip " If you want it, work for it " akhirnya sebulan sebelum masuk kuliah target tercapai. Kubeli motor second untuk melengkapi kebutuhan transportasi. Aku tidak pernah malu dengan apa yang telah aku lakukan, selama itu tidak merugikan orang lain aku sih enjoy aja. Dan aku merasa beruntung mempunyai orang tua yang selalu mendukung apapun pekerjaan yang aku lakukan asalkan itu halal. 

Lalu pada jam 10.15 aku sampai di TKP. Aku melakukannya dengan seorang temanku yang berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun. Sebut saja namanya Godox. Dia memiliki isteri dan dua orang anak yang ceria. Dia adalah seorang ayah yang bisa dibilang Good Father. Karena apapun pekerjaannya akan dia lakukan, agar dia dapat menafkahi keluarganya. Memang sih upah yang didapatkan tidak sebanyak gaji PNS, tapi nyatanya dia dapat menghidupi keluarganya, nyekolahin anaknya, beli gerobak angkringan buat usaha isterinya.. dalam kejadian tersebut mencontohkan bahwa sosok ayah yang baik itu tidak harus punya banyak uang, gaji yang gede, pekerjaan yang mapan, dan memiliki rumah yang megah.... tapi yang paling penting itu adalah tanggung jawab nya, sebagai seorang ayah.


Teringat saat Godox berkata padaku " Mbiyen pli jamane aku iseh penganten anyar, ameh masak tempe rong iris we njaluk almarhum ibukku " yang artinya " dulu pli pada waktu masih penganten baru, mau masak tempe dua lembar aja minta ke almarhum ibu saya ". Kejadian tersebut mengingatkanku akan orang yang tidak berani menikah karena dia bilang belum ada modal. Dan akhirnya orang tersebut sampai sekarang di umur 44 tahun belum menikah juga. Ya mungkin karena dia masih merasa belum mampu untuk mengadakan resepsi yang mewah. 


Dari perkataan Godox tentang tempe dua lembar, dapat aku lihat secara nyata ketulusan jalinan cinta mereka. Di sisi seorang isteri, Dia adalah contoh seorang wanita hebat dan langka ditemukan di jaman saat ini. Karena kebanyakan wanita saat ini bertipe gengsi tinggi. Tapi aku mendukung kepada kamu - kamu yang berpikiran materialistis. Karena logikanya memang benar. Hanya aku menyarankan tetap pintar dalam menyeleksi calon suami, karena seorang pepatah dari timur tengah mengatakan, " seorang pria semakin kaya semakin nakal". Tetapi tidak semua lelaki kayak gitu. Jadi pintar - pintarlah kamu dalam menilai, sehingga tidak menyesal kedepannya.
Tidak Berangkat Karena Malu Terlambat, Lebih Memalukan dari Terlambat.


Diatas kasur tua aku bangun dari tidurku, ketika kulihat jam dinding menunjukkan pukul 7.30 AM. Seketika terucap dari mulutku " jancuk! modyar aku !" Yang artinya " Sial! Mati aku! “. Tanpa acara ngumpulin nyawa, dengan celana jeans rock n roll sobek - sobek yang masih ku kenakan, ku menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi gak kepikiran untuk mandi. Kemudian tanpa nyari baju di almari, ku kenakan baju batik yang tercantol di paku tembok kamar ku. 

Ketika ku melihat kaca dan sambil merapikan rambut macho ku, dalam hati ku menggumam " Berangkat gk ya... Udah jam segini nanti gaboleh absen percuma dong “. Ah tapi ini salah satu mata kuliah yang ku sukai “, karena mata kuliah ini aku jadi mengerti lebih dalam rasa yang selama ini aku pertanyakan. Pada saat itu mata kuliah Ilmu Sosial Dan Budaya yang akan aku pelajari. Ternyata rasa yang sering ku bincangkan dengan temanku ini ada ilmu nya. Dengan mata kuliah ini aku lebih mengetahui teori nya lebih dalam lagi. lalu aku memutuskan untuk mencoba untuk berangkat. Masalah nanti tidak diperbolehkan masuk, yaudah tinggal pulang terus tidur lagi. Dan kalo nanti boleh masuk tapi tidak boleh mengisi absen gapapa lahh, karena absen penuh tanda tangan bukan tujuan utama ku masuk perguruan tinggi, melainkan karena aku merasa manusia bodoh yang ingin mencari ilmu dan pengetahuan lebih banyak lagi. Pada pukul 07.40 ku bergegas dan tancap gas otw kampus dengan kecepatan seratus.

Ketika jalanan macet dan aku mengambil di sisi kanan jalan mau nerobos lampu merah yang biasanya sih aman - aman aja. Eh ternyata pada saat udah melewati barisan terdepan, kulihat ada pak polisi yang berdiri di pinggir jalan yang masih memperhatikan arah yang lain. Karena posisi nya pada saat itu kalo ngrem jelas ga sampai, pemikiran cepatku menyuruh agar tetap menerobos dan pura - pura tidak melihat kalo disitu ada polisi yang sedang mengawasi. Kemudian setelah kulewati dia yang berbadan tegap berisi kudengar dia berteriak keras " Woi!" Ku tengok dia dan pak polisi memaki ku lagi " Matamu nengdi ! " yang artinya " " matamu ditaruh mana ! “.” Maaf pak saya tidak tahu “, jawabku dengan nada halus sopan dan santun. Lalu pak polisi menghampiriku dan berkata " Kamu liat tidak itu yang lain pada berhenti ! ", " iya pak saya minta maaf  ".Ketika lampu hijau sudah menyala dan semua kendaraan melaju ke arahku. Dengan nada rendah dari sebelumnya pak polisi bilang ke aku,” Tidak usah terburu - buru, nanti kalau kecelakaan yang rugi kamu sendiri “. seketika hatiku terenyuh setelah mendengar nasihat darinya. Kujawab " nggih pak, kulo nyuwun ngapuro " yg artinya " iya pak, saya minta maaf " lalu sambil action liat jam tangan. Kemudian polisi tersebut menyuruhku melanjutkan perjalanan, tanpa denda ataupun tilang. 

Disini kudapati polisi yang baik hati, tidak seperti yang orang - orang katakan bahwa polisi itu mata duitan, koruptor dsb. Tidak dapat dimungkiri memang ada polisi yang seperti itu, tapi tidak semua. Buktinya, aku ngelanggar peraturan dan gak dimintain duit wkwk malah dikasih perhatian lebih daripada pacarku. Dan sepertinya aku mulai jatuh cinta sama kamu pak. 


Sesampainya di kampus, aku lari ditangga sambil ngebayangin bahwa aku adalah Cristiano Ronaldo yang lagi latihan sprint tangga. Ketika ku memasuki ruang kelas dan bilang " permisi pak " dengan senyum beliau memotong perkataanku " iya silahkan masuk " " Maaf pak saya bangun kesiangan ", " tidak apa apa, ini malah bagus udah brani jujur ". Kulihat jam di dinding kelas tepat puk 08.05, padahal kelas sudah dimulai satu jam sebelumnya. Dan aku mulai menyesuaikan diri untuk mengikuti pelajaran ini hingga selesai dan aku masih diperbolehkan untuk mengisi absen. 

Pada cerita diatas, pelajaran yang saya dapatkan adalah dimana kita tidak akan pernah tahu jawaban yang sebenarnya jika hanya mengira - ngira atau memikirkannya saja. Karena terkadang apa yang ada di dalam fikiran kita tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Dan tentang masalah polisi.. maaf pak saya khilaf hehe.

Minggu, 18 September 2016






 Hmmm.. Dihari ini jumat, 16 september 2016 pukul 21.26 malam, dengan aplikasi memo di HP ukuran 4inc aku mencoba mengerjakan tugas dari dosenku nih... Beliau adalah dosen Ilmu Sosial dan Budaya yang membagi ilmunya di beberapa perguruan tinggi swasta kawasan Jogja - solo. Beliau meminta ku untuk membuat blog dan menulis cerita layaknya buku diary. Jujur saja sejak aku keluar dari rahim seorang bidadari sampe sekarang belom pernah yang namanya nulis diary. Jadi saya memilih untuk mengarang sebuah cerpen / ilustrasi yang semoga dapat memberikan wawasan bagi kalian. Sebelumnya perlu aku tegaskan bahwa ini hanyalah sebuah karangan / fiktif belaka, jadi jangan serius banget menanggapi cerita aneh ku ini yaa.
Langsung saja semoga kalian dapat mengambil hikmah dari karangan perdana ku.

Pelajaran di Jalanan


Waktu aku duduk di bangku SD, orang - orang sekitar kampung menilai diriku adalah bocah yang bandel dan gabisa diatur. Maklum karena aku di didik oleh orangtua ku tidak terlalu di kekang. Aku tidak pernah di tuntut untuk belajar membaca dan menghitung. Hanya saja setiap waktu malem jumat harus membaca surat Yasin atau tahlilan untuk mendoakan kakek nenek ku dan menjalankan sholat lima waktu hehe
Lalu dikemudian hari ada ketua RT baru yang mempunyai anak se usiaku. Anaknya ngadu tentang apa aku lupa, kemudian pak RT memberi bujukan kepada orangtua - orangtua dari temenku agar anaknya di jauhkan oleh mahluk sepertiku :(. Saat itu hanya rasa kecewa, benci, dan dendam yang terus menerus menemaniku, gada yang lain. Lalu aku memilih untuk tidak berteman dengan orang - orang kampung. Dan aku memutuskan untuk menjadi seorang gamers yang setiap hari bisa hepi yang bisa cari uang sendiri dan hampir dikeluarin sekolah karna sering bolos hanya untuk maen game online.

Tetapi seiring berjalanya waktu, aku mulai sadar bahwa dari kebiasaan maen game ini, aku jadi lebih tau tentang hal komputer, bisa ngetik tanpa melihat keyboard dll. Ketika aku mendapatkan uang dari permainan tersebut, habisnya juga cuman buat maen game lagi, beli voucher dan bayar billing ( tarif /jam di gamenet ). Uang nya gapernah jadi baju ato apa, tapi seakan ilang begitu aja.

Tapi di sisi lain aku menjadi seorang yang pemalu, untuk berkenalan pun lidahku seakan kaku. Okelah, untuk di dunia maya aku mudah mencari dan mempunyai banyak teman. Tetapi di dunia nyata, aku hanyalah seorang bocah pendiam, pemalu yang baperanmudah marah ) kalo di bercandain. Selain itu aku merasa menjadi orang yang kaku dan memiliki pemikiran yang sempit ( susah untuk menerima pendapat/presepsi dari orang lain ).

Kemudian ada sebuah peristiwa yang mendorongku untuk berfikir kedepan. Disaat beberapa bulan menjelang Ujian Nasional SMP, aku di panggil oleh guru BK untuk yang kesekian kalinya karna masalah ketidak hadiranku di sekolah yang telah melebihi batas. Aku masih ingat ucapan yang tidak mengenakkan hati yang telah di ucapkan oleh guru BK ku. Ingin rasanya ku tonjok mulutnya agar dia lebih menata kata - kata yang ia ucapkan agar tidak melukai perasaan ibu ku. Namun aku merasa sangat beruntung mempunyai ibu yang sangat sabar dalam menghadapi masalah apapun, sehingga guru botak itu ( karna rambutnya botak ) memberi ku kesempatan untuk yang terakhir kalinya untuk memperbaiki kesalahan - kesalahan yang telah kuperbuat.

Lalu aku mulai berfikir, jika aku terus begini ( dengan menjadi seorang gamers ) aku bisa semakin terjerumus kedalam dunia gamers yang dapat mempengaruhi masa depanku. Dan tidak akan mengenali dunia nyata yang seutuhnya. Aku merasa jiwa ku belum hidup sepenuhnya. Dengan perlahan aku mencoba untuk belajar bersosialisasi. Mengubah kebiasaan bermain game menjadi kebiasaan melakukan interaksi terhadap orang - orang baru. Al hasil memang kudapati banyak temen. 

Ketika masuk di bangku SMK, aku merasa skill percaya diriku mulai meningkat dari sebelumnya. Aku udah mulai lancar untuk berbicara, bergaul, dan bercanda tawa. Tapi cara berbicara dan memperlakukan seseorang aku masih belum dapat memilah, bahwa ini dapat menyinggung atau tidak nya perasaan lawan bicara ku. Seperti halnya saat MOS dimulai, ada kakak kelas yang selaluuuu mencari kesalahanku, entah mengapa dia terus menerus memarahi ku.

Nah disaat hari terakhir MOS, semua siswa baru berkumpul di aula. Ketua Osis meminta untuk semua siswa baru membuatkan puisi untuk salah satu kakak Osis yang kita idamkan ( iuh ). Dan terfikir di otakjahat ku untuk melakukan balas dendam hehe. Kemudian kubuatkan deh puisi gombal yang bersifat ngejek tapi lucu, dengan cara aku langsung ngomong di depan dia dan di depan ratusan siswa baru.

Semua mahluk yang ada di alua tertawa karena puisiku ( termasuk cicak juga haha ). Tetapi setelah aku selesai membacakannya, dan mau ngasih bunga ( yang ku ambil dari vas bunga diatas meja paling depan ), eh dia nya malah pergi dengan mimik wajah yang menggambarkan bahwa dia marah. Setelah beberapa menit kemudian kudapati kabar bahwa dia nangis karena malu akan puisi gombal yang kuberikan kepadanya. " ( Kuharap kamu tidak penasaran dengan puisi itu) karena puisi tersebut dapat menyebabkan kanker dan serangan jantung hehe “.

Tidak hanya itu saja, sering kali aku berkelahi karena sifatku yang kaku, pemikiran sempitku dan perkataanku yang secara tidak ku sadari telah melukai perasaan orang lain. Dan aku mengakuinya bahwa diriku yang salah. Sehingga mereka merasa tidak terima dan marah padaku. 

Pada tahap ini, aku mulai mempunyai presepsi bahwa di setiap perkumpulan yang ku alami adalah interaksi antara berbagai individu yang mempunyai sifat dan pola pikir yang berbeda. Jadi kita harus memahami sifat, watak, dan cara berfikir teman / lawan bicara kita agar dapat mengatur alur pembicaraan agar tetap harmonis. Atau istilah orang jawa bilang ( ngemong ).

Sekarang jika saya menemui tipikal orang yang kaku & pemikiranya yang sempit, saya lebih memilih untuk pura - pura bodoh, dan membesarkan hati nya. Serta mengambil point - point baru untuk menambah wawasan dan menjadikanya sebagai obyek penelitianku.

Seiring banyak orang yang telah ku jumpai, dan banyaknya kejadian - kejadian yang telah ku alami, tanpa di sadari aku merasa mulai dapat membaca pikiran orang lain, dan menilai karakter seseorang hanya dengan melihat cara dia berbicara ( maaf jika kamu tidak setuju, tapi kumohon kamu memaklumi akan pemikiran bodoh ku ini ). Mungkin ini terlihat aneh, lebay, dan sok. Tapi mohon maaf, memang ini yang telah kurasakan.

Dengan itu aku juga berlatih untuk tidak secara langsung ngejudge orang dengan kesan peratama yang ku alami. Beberapa orang kadang menilai manusia dari luar nya aja. Tanpa mencoba untuk mengenali lebih dalam lagi. Karena mungkin kesan pertama yang dia alami adalah bad impression ( kesan buruk ). So, langsung deh dia ngjudge dengan se enak jidatnya.

Kalo emang benar begitu, lalu kenapa seorang yang berpenampilan seperti walizongo yang biasa disebut oeztad, bisa - bisa nya mencabuli anak didiknya sendiri ? Aku aja yang penampilan kayak preman pengen nyium cewek aja nunggu dia nyosor duluan. Terus mereka orang - orang yang berdasi yang mempunyai jabatan tinggi, dengan teganya nggelapin uang rakyat ? Padahal gaji nya sebulan aja udah kyk jatah makan ku selama 2 tahun.( mungkin aku belom ngrasain aja ketika berada di posisi seperti mereka, Kalo udah.. gak cuma uang, istri orang paling juga uwe gelapin wkwk ).

So... pelis lah mabow.. " where ever you're, don't judge a person from the out side ". Cari lah data / informasi se banyak - banyak nya, baru deh kamu dapat menyimpulkan hipotesis ( kesimpulan sementara ). Karena menurutku, tidak ada kebenaran mutlak di dalam ilmu sosial & budaya. Karena disetiap individu memiliki cara pandang yang berbeda. Dan di setiap tempat, memiliki kebudayaannya masing - masing.

Memang sih, dengan mikirin tentang sosial dan budaya aku gak dapet duit, apalagi seorang pacar. Akan tetapi aku sangat bersyukur kepada ALLAH SWT, karna telah memberi pemikiran bodoh seperti ini aku merasa alur kehidupanku lebih luas, lebih berwarna dan lebih menarik ^^.

And then.. Pada cerpen / ilustrasi diatas, aku dapat menyimpulkan bahwa pelajaran yang hanya bisa kita dapatkan di jalanan juga tidak kalah penting dengan ilmu yang kita dapatkan ketika kita membaca banyak buku. Dengan banyaknya pengalaman bersosial akan secara otomatis membentuk pola pikir yang terbuka. Jelas beda hal nya nanti jika di bandingkan dengan gamers / kutubuku yang tidak pernah keluar rumah. Memang benar dengan membaca banyak buku kita akan memiliki banyak pengetahuan.
Tetapi akan lebih baik jika di imbangi dengan ber eksperimen di jalanan. Menerapkan ilmu dari apa yang telah kamu baca ke dunia nyata dan memahami reaksi nya. Ini hanya kesimpulan dari pemikiran orang yang tidak pernah baca buku, jadi aku mohon maaf buat kamu - kamu yang tidak setuju dengan kesimpulan ku. Tak luput kusadari bahwa diriku juga kekurangan ilmu pengetahuan karena selama ini hanya koran lah yang sering ku baca. Jadi jika kamu punya rekomendasi buku yang ringan untuk pemula seperti ku, dengan senang hati aku akan mencoba membaca nya ^^.

Alhamdulilah.. pada hari minggu pagi 18 september jam 6.53 pagi dengan Hp 4inci aku meng akhiri cerita bodoh ini. Tinggal nanti sore pergi ke warnet untuk buat blog dan ngetik ulang lagi hehe.  Sekali lagi saya ingatkan. " Ini hanyalah karangan / fiktif belaka " jika ada banyak kata / kesalahan - kesalahan lain yang menyinggung perasaan Kamu, aku mohon maaf dengan se besar - besarnya ".

Terimakasih telah membaca hingga akhir. Silahkan untuk memberikan sebuah Kritik dan saran darimu sangat kuharapkan.
instagram / line : @ faturrozaak