Our
Culture Our Future
Tumben
sekali pagi ini tidak hujan, biasanya ketika bangun pagi sudah terdengar rintik
hujan yang mengawali pagi yang penuh deadline. Dengan terpaksa pakai mantel
hujan – hujanan menepati janji dengan dosen. Tapi sekarang ? disaat tidak ada
apapun, pagi ini begitu cerah, wangun !. Tapi aku orapopo. Biar tidak merasa
dikerjain sama hujan, aku langsung mencari kesibukan entah apapun itu.
Setelah
sarapan dan mandi pagi, ku menikmati secangkir teh hangat. Kemudian teringat
tentang tugas pengiriman blog yang masih belum memenuhi syarat. Dengan bismillah
ku mencoba mengambil sebuah peralatan tempur ku. kemudian ku ambil sebatang
rokok sisa begadang tadi malam, sebagai
modal awal melakukan pengetikan.
Selasa,
6 desember 2016 telah diadakan seminar khusus untuk mahasiswa Fakultas Sosial
dan Ekonomi di kampus Respati Yogyakarta yang berjudul “ Our Culture, Our
Future “. Event ini bertujuan untuk mempersatukan berbagai macam budaya. Tidak hanya
se bangsa Indonesia, namun kali ini menampilkan orang – orang hebat dari
berbagai macam Negara lain, dan para mahasiswa asing yang mendapatkan beasiswa
untuk mempelajari bahasa dan budaya di Indonesia.
Walaupun
acara ini dimulai pada siang hari, namun aku sebagai panitia yang istimewa
harus datang lebih pagi. Jam setengah sembilan ku selah montor tua ku, dan
berangkat menuju kampus 1 Universitas respati Yogyakarta. Baru beberapa detik
dari rumah, sapaan yang kuberikan secara rutin ketika berangkat kepada si
juragan rujak, yang setiap beli dan mau bayar dia bilang,
“ Weleh koeki malah ngopo? Uwis rasah “. Yang
artinya “ Weleh kamu tu malah ngapain? udah
gausah“.
“ Walah malah rapenak dewe ki aku”. Artinya “ walah
malah enggak enak sendiri nih aku”.
“Rapenak goyangke !”.
“Hahahaha.
Tapi
tidak setiap hari aku minum / makan gratis ditempat ini, nggak enak lah ya
kalau tiap hari gratisan terus, ntar dia bisa gulung tikar nanti. Kadang uang
nya aku taruh dibawah gelas / piring tanpa bilang mau bayar. Percakapan diatas
aku lakuin cuma kalau lagi pengen gratisan aja hehehe.
Entah
mengapa di Jogja banyak kutemui orang seperti ini. Jika mempunyai teman berjualan
makanan / minuman, kadang mereka merasa sungkan untuk menerima uang bayaran
dari teman sendiri. Setidaknya harga yang diberikan lebih murah atau kadang
malah seikhlasnya kita mau bayar berapa.Hal tersebut sepertinya sudah membudaya
sejak zaman penjajahan belanda, mungkin. Menurutku kasus ini seperti “Perasaan
tidak enak karena temen sendiri masa iya disuruh bayar”. Bertemu dengan “Perasaan
tidak enak juga kalau tiap hari di gratisin”. Itu mungkin salah satu contoh
dari “ Jowo Anggone Roso “. Yang dimana orang jawa melakukan setiap hal
menggunakan perasaan. Tetapi aku tidak tahu, mungkin di tempat lain juga melakukan hal
sama. Ehh, ini kok jadi ngomongin tukang rujak gini sih? Maaf ya.
Pukul
09.12 ku sampai parkiran motor dan menuju lapangan badminton untuk melihat dan
menyemangati latihan terakhir mereka. Eh tidak hanya itu saja sih, aku juga
berperan dalam drama ini lho, walaupun hanya tukang menempatkan dan menarik
bangku disetiap adegan yang berkelanjutan. Yaa hitung – hitung latihan untuk
menjadi orang yang di balik layar, alias wong sing ora ketok.
Kemudian
menjelang acara dimulai, aku dusuruh salah satu dosen untuk menjadi security
coba. Yang agak geli nya lagi, menjadi security buah. Iya disitu aku disuruh
untuk menjaga agar tidak ada karyawan / dosen yang mengambil sebelum acara
dimulai. Disitu terdapat makanan angkringan dan berbagai macam buah / rujak. Banyak
karyawan, dosen, teman – teman dari Fakultas Kesehatan yang tergoda dan
bertanya untuk meminta. Padahal udah aku buatkan tulisan besar – besar “ NOT
for SALE, Guest Only “ masih aja mereka pura – pura tidak baca. Mungkin karena
mereka melihat dengan lahapnya aku menyantap buah nanas di depan mereka. “Emot
ketawa jahat”
Setelah
dimulainya acara, dan suksesnya drama yang telah kami tampilkan, diperkenalkan
lah kami dengan orang – orang hebat. Salah satu nya adalah Mr. Patrick, yang
suka dan menginginkan dipanggil Mas Petruk. Dia adalah orang asing yang sudah
puluhan tahun tinggal di jogja dan mendalami semua budaya jawa. Dari bahasa,
tingkah laku, budaya, sastra jawa, aksara jawa, ilmu kejawen dll.
Dia
merasa tertarik dengan budaya jawa karena apa yang diajarkan disini tidak ada
di tanah kelahirannya. Dengan budaya barat yang begitu bebasnya, dia tertarik
mendalami budaya jawa yang menunjung tinggi unggah – ungguh, kesopanan dalam
berbahasa dan tingkah laku, yang katanya membuat dia merasa hidup lebih
bermakna. Dia merasakan jati dirinya ada disini, di Jogjakarta. Sehingga saat
ini terus menerus dia mendalami kebudayaan orang Jawa yang aku yang asli
kelahiran Jogja kalah.
Dengan
dipertemukannya dengan Mas Petruk ini membuatku sadar diri. Ternyata tanpa kusadari
bahwa diriku telah lupa dengan budayaku sendiri. Tanpa kusadari diriku perlahan
melukapan kebudayaan ku sendiri. Aku justru malah terlena dengan kebudayaan
orang lain/orang asing. Dengan teguran secara tidak langsung ini, dengan
bumingnya anak muda yang bangga menggunakan / menerapkan budaya asing. Aku akan
mencoba tetap bangga menerapkan dan mencintai budaya tanah air ku sendiri.
Sebetulnya
tidak hanya Mas Petruk yang menjadi narasumber pada waktu itu, masih ada 2 atau
3 lagi yang aku lupa namanya. Karena pada saat itu aku sedang asik mengobrol
dengan para wanita cantik dari korea selatan dan vietnam. Ya itung – itung buat
ngasah bahasa inggris kan, walaupun masih amburadul. Aku sempat heran dengan
salah satu dari mereka, padahal baru 3 bulan di Jogja, dia dapat berbahasa
Indonesia yang menurutku lancar.
Kami
berdua saling berbincang, aku menggunakan English, dia menggunakan Bahasa. Ketika
sedang seru – serunya, datanglah salah satu kakak tingkatku nimbrung ikut
ngobrol. Memang sih dia menurutku udah lancar sekali talk English nya, aku
berada di level bawahnya jauh. Sangat ku kagumi keahliannya yang sangat percaya
diri untuk sok akrab dengan siapapun, dengan orang yang belum dia kenal
sekalipun.
Dia
mulai ngobrol, membanggakan dirinya, yang baru berusia belia udah kuliah di
semester lima. Dan satu kalimat yang sampai saat ini masih ku ingat ketika
dengan bangganya dia mengucapkan “Hello?? My friends is not only Indonesian You
know?? I have lots of friends from the other country”. Pengen sekali rasanya,
pengen banget bisa seperti dia. Lancar dalam speaking maupun writing. Yang dapat
mempunyai teman dari Negara lain. Namun apalah dayaku yang terlambat sadar akan
pentingnya sebuah ilmu untuk kehidupan masadepan.
Dan
setelah kedatangannya aku lebih banyak diam dan menyimak, karena disetiap
perkataanku dipotong olehnya. Oleh dia yang sudah lancar berbaha Inggris, dan
tidak memberikan aku kesempatan untuk belajar. Dan akhirnya aku memilih untuk memperhatikan
lagi si narasumber berbicara sambil menikmati sosis yang aku genggam.
Ah kalau
gini terus, kapan aku bisa pintar seperti mereka ya ? Temen sekelas pada ikut
les yang tiap bulan harus membayar. Aku ? hanya bisa berjuang sendiri dan
berdoa, semoga dapet IPK lebih dari tiga haha. Dan mohon maaf sebelumnya untuk
sementara ini curhatanku sampai disini dulu. Karena barusan Hari Kamis pukul
09.18 AM salah satu Dosen menghubungiku, bahwa beliau bilang lagi butuh bantuan
saat ini. Jadi cerita ini mungkin akan berlanjut lagi nanti malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar