Perpustakaan
Unik di Yogyakarta
Malem
minggu tanggal 12 November 2016 aku memilih bermesraan dikamar bersama laptop
untuk melatih ketrampilan tangan dalam menulis sesuatu yang supaya dapat
menghasilkan sebuah tulisan yang dapat kamu baca. Meskipun mataku terus
mengajak untuk beranjak tidur, namun pemikiranku memaksa ku untuk menuliskan
perjalananku hari ini.
Jalan
– jalan akhir pekan ku berawal di hari sabtu pagi pukul tujuh. Aku bergegas menuju
kampus untuk menemui dosen dan teman – temanku untuk menepati janji yang sudah
disepakati. Kami sudah membuat janji bahwa hari ini aka adan outing class di
salah satu tempat yang dosenku bilang sih semacam perpustakan yang bernama “ I-Boekoe “. Tempat ini berada di
daerah bantul, aku lupa alamat lengkapnya apa yang jelas dekat kampus ISI.
Sesampainnya di kampus aku disambut dengan tawaan konyol dari teman – temanku. Kemudian
ku lepas helm dan jalan menuju mereka dan dengan wajah polos ku berkata, “ Maaf saya terlambat hehe “.
Lalu kami ngobrol
tentang perjalanan yang akan kita tempuh, dan kami mengatur formasi atau
strategi agar dalam perjalanan dapat sampai ke tujuan dengan lancar dan aman.
Karena aku asli Jogja, yang dosenku berharap aku dapat menjadi tour guide ( penuntun
arah ) yang baik. Beliau menyuruhku agar dapat memimpin perjalanan di barisan
paling depan dan beliau berada di paling belakang. Katanya agar kejadian tahun
lalu yang terpencarnya mahasiswa yang saling nyasar kesana kemari tidak
terulang lagi di tahun ini. Beliau bilang “
Nanti sebelum ISI ada akbid kamu berhenti disitu saja ” , “ Siap pak!”
Setelah siswa terakhir
yang kita tunggu – tunggu akhirnya datang juga, kami berangkat bagaikan YRKI (
Yamaha Rx King Indonesia ) yang sedang touring luar kota. Kami berangkat beriritan
rapi dan setelah kurang lebih 15 menit perjalanan beliau mendekatiku dan
bertanya “ Mau kemana pli? “. “ SMSR kan pak ?” dengan tertawa
keras Miss Bee ( Asdos yang membonceng
dosenku ) mengejek pernyataanku yang salah. Dengan itu aku jadi ingat,
bukanlah SMSR yang kan dituju, tapi melainkan Isi ( Institut Seni Indonesia )
dan membuat kami terpaksa untuk berbalik arah. Entah mengapa pada saat itu yang
teringat di otak tololku adalah SMSR, mungkin karena keinget terus waktu sering
jemput kamu di SMSR hehe.
Setelah sesampainya
disana seketika dalam hati, “ Wow.
Tempatnya asri sekali, lantas saja mereka dapat membaca atau menulis dengan
waktu yang lama”. Tempat ini adalah semacam perpustakaan yang tidak seperti
apa yang aku bayangkan sebelumnya. Tempat ini begitu indah, nyaman, dan sejuk.
Karena disetiap sudut di lengkapi dengan alaminya daun pepohonan. Hektar sawah
menjepit bangunan ini, yang disebelah kanan adalah sawah jagung sedangkan sawah
padi disamping kiri. Dan ketika kamu berada di lantai atas, pemandangan alami
nan segar akan membangkitkan semangat, perasaan, ketenangan, dan mood kamu
untuk menuangkan ide dan pikiran kedalam tulisan. Tidak seperti keadaan
dirumahku, yang dimana aku harus malam – malam untuk mengetik agar tidak
diganggu adek atau gangguan yang lain.
Disana juga terdapat
kafe yang berada di bagian paling depan bangunan. Kafe ini dibuka dari jam lima
sore hingga jam dua belas malam. Dibagian kafe ini terdapat lukisan seseorang
yang menginspirasi untuk menjadikan kafe ini dinamai kafe Adil. Terinspirasi oleh salah satu karya dari Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Adil sejak dalam pikiran. Jadi disini kamu dapat membaca buku atau
menulis sesuatu sembari menikmati hangatnya secangkir kopi. Atau dapat mengajak
pacar atau gebetan kamu kesini. Kan keren pacaran sambil baca buku, daripada
saling pegang gadget.
Kemudian di perkenalkan
lah kami dengan direktur perpustakaan tersebut, yang kemudian menuntun kami
untuk memasuki ruangan pertama, yaitu ruang arsip. Dapat terlihat arsip – arsip
tertata rapi disetiap rak yang melekat di setiap sisi dinding ruangan tersebut,
dan bertumpuk tinggi kurang lebih 3 meter tingginya. Arsip yang kebanyakan
berupa Koran dari tahun 1910 – 2000an yang terjaga dengan baik sehingga dapat
kamu baca dengan jelas. Dengan koran – koran lama ini, kita dapat menggali
sejarah politik, kasus, dan informasi – informasi terdahulu yang dapat kita
jadikan sebagai pengetahuan baru yang nantinya kita rangkum, dan membuatnya
menjadi sebuah buku politik, sistem, atau informasi yang mendetail.
Disana terdapat juga
seni rupa yang berbentuk lukisan tokoh atau para pahlawan yang mempengaruhi
negeri ini seperti Soekarno, Muh Hatta, H.O S Cokroaminoto dan masih banyak
tokoh lain yang semuanya berjumlah 20 lukisan. Detail lukisan ini berupa
tulisan biografi pendek yang dengan kreativitas dan dominasi warna sehingga
membentuk pola yang menyerupai wajah mereka. Dan lukisan ini menurutku cukup
besar, karena dengan ukuran kurang lebih 2,5m x 2m. Masih banyak lagi lukisan
logo, mural, pesan kata – kata, dan seni rupa yang lain telah menyelimuti
disetiap dinding di bangunan ini yang dapat kamu nikmati.
Setelah melihat – lihat
sekitar, pak direktur mengajak kami duduk di lantai atas dan kami mendengarkan
sedikit cerita atau sejarah berdirinya perpustakaan ini. Perpustakaan ini
sebelumnya berada di nitikan, dan pindah disini karena dapat bantuan dari salah
satu pelukis dari sumba yang bernama Galam
Zulkifli.Organisasi ini terbentuk yang pada awalnya tidak memiliki modal
capital, tapi memiliki modal cultural yang melimpah. Sehingga saat ini modal
capital datang dengan sendirinya.
Disini terdapat juga
progam – progam yang dapat kita ikuti. Yang pertama ialah kelas menulis essay.
Di kelas ini kamu dapat belajar dan di bimbing bagaimana menulis sebuah artikel
atau buku dengan baik dan benar yang nantinya akan di buatkan sebuah buku karya
kita sendiri. Kan keren kalo kita membuat sebuah karya. Nama kita akan dikenal,
dicatat oleh sejarah, ini adalah salah satu cara untuk memanjangkan usia.
Karena kita mati meninggalkan nama. Untuk apa kita punya nama jika tidak
dikenal apalagi di kenang.
Atau bisa juga jika
kamu menginginkan untuk diajarkan menulis kreatif mereka para pembimbing akan
dengan senang hati mengajarkan kalian tentang teori – teori dan menuntun kalian
untuk menulis kreatif yang menarik. Kemudian ada kelas radio buku, di kelas ini
kamu akan diajarkan bagaimana menjadi penyiar secara bergantian. Yang
diharapkan kedapanya dapat mengurusi segala aktifitas di radio buku. Kelas ini
telah mempunyai banyak volunter untuk itu.
Kelas ini hanya
bersyaratkan dengan mengumpulkan sepuluh orang yang bersemangat, kita dapat
membuat satu kelas dan semua ini free tidak dipungut biaya sepersen pun, hanya saja
mungkin nanti untuk membeli buku sebagai bahan atau materi untuk berdiskusi.
Kelas ini memang tidak dikenakan biaya, namun sebuah komitmen lah yang harus
anda bayar ketika mengikuti kelas ini. Apa mereka tidak rugi ya ? “ Ketika kita berbuat baik, sesuatu yang
baik pula akan menimpa kepada kita. Kebaikan sudah pasti menular, itu sudah
hukum alam “ seruan pak direktur kepada kami yang dapat membuatku untuk mencatat
kata – kata ini.
Jujur saja dengan
kunjungan ini memunculkan semangatku untuk mulai membiasakan membaca buku
setiap hari. Di tempat ini membuatku sadar sebuah buku dapat meningkatkan
pengetahuan kita lebih luas lagi. Membuat kita tahu akan banyak hal. Disini kucoba
membaca bermacam banyak buku. Bukunya keren, asik – asik semua yang sampai membuatku
senyum – senyum sendiri dan kadang ada yang membuatku pusing juga. Namun kenapa
semua ini masih tetap saja belum membuatku menjadi jatuh cinta kepada buku
seperti cintaku kepada musik rock n roll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar