Jumat, 16 Desember 2016

Grebeg (Gunungan)

            Pagi ini aku keluar untuk melihat – lihat lapangan Sewandanan sebelah timur yang sudah penuh dengan orang -  orang menikmati sarapan pagi. Hal ini memunculkan ideku untuk menuliskan tugas Ilmu Sosial dan Budaya dasar yang masih kurang. Di lapangan ini, aku berbincang dengan para pedagang rujak sedang mengolah adonan es yang membuat badan mereka seperti binaraga. Dan setelah secangkir kopi yang aku nikmati sudah habis, ku bergegas pulang untuk mencoba mengerjakan tugas seorang mahasiswa.

            Lapangan sewandanan terletak di depan Kraton Pakualaman, atau bisa jadi disebut sebagai alun – alun Pakualaman. Tempat ini dulunya adalah tempat dimana setiap sore aku bermain sepak bola dengan teman – temanku. Namun sejak tahun 2004an tempat ini sudah berubah dengan adanya pedagang kaki lima yang menyediakan makan pagi hingga makan malam. Sehingga tidak memungkinkan lagi untuk para bocah kecil bermain di lapangan ini.

            Dan jika adanya hari raya islam seperti Idul fitri, Idul adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW tempat ini dipenuhi oleh para pedagang. Dari pedagang makanan, mainan, pakaian, kaset DVD dan masih banyak lagi. Sehingga pada hari – hari tersebut dapat membuat dompet tipisku kian menebal. Karena adanya acara ini, aku selalu membuka usaha baru yaitu jasa penitipan motor, atau biasa disebut tukang parkir.

            Tidak hanya itu yang membuat keteratarikan masyarakat untuk datang ke lapangan Sewandanan ketika hari raya tiba. Adanya upacara adat “Grebeg” atau sering disebut “Gunungan” selalu mengiringi hari - hari raya tersebut. Dalam setahun terdapat tiga kali grebeg, yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Besar, dan Grebeg maulid. Grebeg tersebut diadakan ketika berkatian dengan hari raya Islam. Grebeg Syawal untuk memperingati hari raya Idul Fitri serta sebagai bentuk ungkapan syukur telah melewati bulan Ramadhan sekaligus menyambut datangnya bulan syawal, Grebeg besar diselenggarakan untuk menyambut hari raya Idul Adha yang terjadi dalam bulan Zulhijah, yang dalam kalender Jawa sering disebut sebagai hari besar, sedangkan Grebeg Maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Acara grebeg ini diselenggarakan tepat pada hari raya tersebut, kecuali untuk hari raya Idul Fitri, yang biasanya diselenggarakan di hari kedua. Mungkin karena dihari pertama di khususkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga.

            Grebeg ini adalah budaya atau upacara adat kuno yang sudah turun temurun, atau sudah dari Sultan HB yang dulu – dulu hingga sekarang masih diselenggarakan untuk menjaga kebudayaan asli Yogyakarta yang bertujuan untuk senantiasa menyebarkan dan melindungi agama Islam. Namun sampai sekarang aku belum tahu pasti kenapa acara ini dinamai “Grebeg”. Karena dari kecil hanya nama gununganlah yang aku ketahui, yaitu sebuah hasil pertanian yang disusun seperti gunung.

Dua grebeg yang dibuat ini akan di doakan dan diiringi para bergodo atau prajurit kerajaan untuk di bagikan kepada masyarakat di alun – alun utara (Kraton Yogyakarta) dan yang satunya di lapangan Sewandanan (Kraton Pakualaman). Sebagian besar masyarakat yang ikut merebutkan grebeg ini percaya bahwa jika mereka mendapatkan salah satunya akan membawa berkah. Bahkan bambu yang dijadikan kerangkanya pun kadang ada yang membawanya pulang, ketika ditanya “buat apa mas?”, mereka menjawab “buat jimat hahaha”.

Aku tidak begitu yakin dengan mereka bahwa merka benar – benar percaya dengan mitos ini, namun dulu ketika aku ikut merebutkan gunungan tersebut hanya sekedar iseng aja, bukan karena apa –apa. Dan pada waktu itu aku mendapatkan ento – ento (seperti ketela yang dikeraskan) ada yang mau membelinya. Dia adalah seorang pedagang dari luar jawa, kalau aku lihat dari logatnya sepertinya ibu ini berasal dari Batak. Aku tidak tahu apa penyebab ibu ini begitu semangat untuk membeli barang tersebut. Mungkin telah mendengar cerita rakyat atau mitosnya bahwa barang ini dapat membawa berkah.

Itulah sedikit cerita tentang Grebeg atau Gunungan yang telah menjadi acara adat atau budaya lama yang masih terjaga. Namun penulis mohon maaf sebesar – besarnya jika ada salah informasi dan sebagainya, karena semua ini hanyalah berdasarkan dari pengetahuan kecil sang penulis, yang berharap dapat membatu untuk sedikit mengenal upacara adat khas Yogyakarta ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar