Grebeg
(Gunungan)
Pagi
ini aku keluar untuk melihat – lihat lapangan Sewandanan sebelah timur
yang sudah penuh dengan orang - orang
menikmati sarapan pagi. Hal ini memunculkan ideku untuk menuliskan tugas Ilmu
Sosial dan Budaya dasar yang masih kurang. Di lapangan ini, aku berbincang
dengan para pedagang rujak sedang mengolah adonan es yang membuat badan mereka
seperti binaraga. Dan setelah secangkir kopi yang aku nikmati sudah habis, ku
bergegas pulang untuk mencoba mengerjakan tugas seorang mahasiswa.
Lapangan sewandanan terletak di depan
Kraton Pakualaman, atau bisa jadi disebut sebagai alun – alun Pakualaman. Tempat
ini dulunya adalah tempat dimana setiap sore aku bermain sepak bola dengan
teman – temanku. Namun sejak tahun 2004an tempat ini sudah berubah dengan
adanya pedagang kaki lima yang menyediakan makan pagi hingga makan malam. Sehingga
tidak memungkinkan lagi untuk para bocah kecil bermain di lapangan ini.
Dan
jika adanya hari raya islam seperti Idul fitri, Idul adha, dan Maulid Nabi
Muhammad SAW tempat ini dipenuhi oleh para pedagang. Dari pedagang makanan, mainan,
pakaian, kaset DVD dan masih banyak lagi. Sehingga pada hari – hari tersebut
dapat membuat dompet tipisku kian menebal. Karena adanya acara ini, aku selalu
membuka usaha baru yaitu jasa penitipan motor, atau biasa disebut tukang
parkir.
Tidak
hanya itu yang membuat keteratarikan masyarakat untuk datang ke lapangan
Sewandanan ketika hari raya tiba. Adanya upacara adat “Grebeg” atau sering
disebut “Gunungan” selalu mengiringi hari - hari raya tersebut. Dalam setahun
terdapat tiga kali grebeg, yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Besar, dan Grebeg
maulid. Grebeg tersebut diadakan ketika berkatian dengan hari raya Islam.
Grebeg Syawal untuk memperingati hari raya Idul Fitri serta sebagai bentuk
ungkapan syukur telah melewati bulan Ramadhan sekaligus menyambut datangnya
bulan syawal, Grebeg besar diselenggarakan untuk menyambut hari raya Idul Adha
yang terjadi dalam bulan Zulhijah, yang dalam kalender Jawa sering disebut
sebagai hari besar, sedangkan Grebeg Maulid untuk memperingati hari kelahiran
Nabi Muhammad SAW. Acara grebeg ini diselenggarakan tepat pada hari raya
tersebut, kecuali untuk hari raya Idul Fitri, yang biasanya diselenggarakan di
hari kedua. Mungkin karena dihari pertama di khususkan untuk bersilaturahmi
dengan keluarga.
Grebeg
ini adalah budaya atau upacara adat kuno yang sudah turun temurun, atau sudah
dari Sultan HB yang dulu – dulu hingga sekarang masih diselenggarakan untuk
menjaga kebudayaan asli Yogyakarta yang bertujuan untuk senantiasa menyebarkan
dan melindungi agama Islam. Namun sampai sekarang aku belum tahu pasti kenapa
acara ini dinamai “Grebeg”. Karena dari kecil hanya nama gununganlah yang aku
ketahui, yaitu sebuah hasil pertanian yang disusun seperti gunung.
Dua grebeg yang dibuat
ini akan di doakan dan diiringi para bergodo atau prajurit kerajaan untuk di
bagikan kepada masyarakat di alun – alun utara (Kraton Yogyakarta) dan yang satunya
di lapangan Sewandanan (Kraton Pakualaman). Sebagian besar masyarakat yang ikut
merebutkan grebeg ini percaya bahwa jika mereka mendapatkan salah satunya akan
membawa berkah. Bahkan bambu yang dijadikan kerangkanya pun kadang ada yang
membawanya pulang, ketika ditanya “buat apa mas?”, mereka menjawab “buat jimat
hahaha”.
Aku tidak begitu yakin
dengan mereka bahwa merka benar – benar percaya dengan mitos ini, namun dulu
ketika aku ikut merebutkan gunungan tersebut hanya sekedar iseng aja, bukan
karena apa –apa. Dan pada waktu itu aku mendapatkan ento – ento (seperti ketela
yang dikeraskan) ada yang mau membelinya. Dia adalah seorang pedagang dari luar
jawa, kalau aku lihat dari logatnya sepertinya ibu ini berasal dari Batak. Aku tidak
tahu apa penyebab ibu ini begitu semangat untuk membeli barang tersebut. Mungkin
telah mendengar cerita rakyat atau mitosnya bahwa barang ini dapat membawa
berkah.
Itulah sedikit cerita
tentang Grebeg atau Gunungan yang telah menjadi acara adat atau budaya lama
yang masih terjaga. Namun penulis mohon maaf sebesar – besarnya jika ada salah
informasi dan sebagainya, karena semua ini hanyalah berdasarkan dari pengetahuan
kecil sang penulis, yang berharap dapat membatu untuk sedikit mengenal upacara
adat khas Yogyakarta ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar