Harmonis Nggak Harus Mewah
Rise
up this morning, smiled with the risin sun.. three little birds. Sebuah lagu
dari alm Bob Marley mengawali pagi ku yang penuh gairah. Hari ini, sabtu pukul
09.45 kumenunggu kedatangan temanku yang berjanji mau ngasih aku pekerjaan di
pagi ini. Dengan seglintir lamunan kuteringat tugas dari salah satu dosen ku
yang membuatku untuk membuka aplikasi memo di hape. Dan baru beberapa menit
kumenunggu akhirnya temanku datang dan kita gaspol menuju TKP.
Jujur
aja ini pengalaman pertama ku untuk bekerja sebagai service AC. Tapi gamasalah,
hitung - hitung buat nambah pengalaman dan ilmu baru. Setelah sampai tempat
dimana lima AC yang harus kuperbaiki. Yaitu sebuah kost putra dimana hanya anak
orang kaya yang mampu menyewa sebuah kamar disini. Tak perlu kujelaskan secara
detail seperti apa yang ku kerjakan, yang jelas nyari duit itu nggak ada yang
tidak membutuhkan perjuangan.
Sedikit
pengalaman kerja yang udah aku telusuri. Dari tukang parkir, las karbit,
nyablon, courier mengikuti berbagai macam event dan masih banyak. yang penting
dapet duit gitu lah. Semua itu aku lakukan pada awal masuk di bangku kelas dua SMK setelah diriku mempunyai keinginan
untuk melanjutkan jenjang studi ke perguruan tinggi. Karena jika aku sudah
mulai masuk ke dunia perkuliahan, aku pasti membutuhkan yang namanya kendaraan
pribadi. Kemudian dengan prinsip " If you want it, work for it "
akhirnya sebulan sebelum masuk kuliah target tercapai. Kubeli motor second
untuk melengkapi kebutuhan transportasi. Aku tidak pernah malu dengan apa yang
telah aku lakukan, selama itu tidak merugikan orang lain aku sih enjoy aja. Dan
aku merasa beruntung mempunyai orang tua yang selalu mendukung apapun pekerjaan
yang aku lakukan asalkan itu halal.
Lalu
pada jam 10.15 aku sampai di TKP. Aku melakukannya dengan seorang temanku yang
berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun. Sebut saja namanya Godox. Dia
memiliki isteri dan dua orang anak yang ceria. Dia adalah seorang ayah yang
bisa dibilang Good Father. Karena apapun pekerjaannya akan dia lakukan, agar dia dapat menafkahi keluarganya. Memang sih upah yang didapatkan tidak sebanyak
gaji PNS, tapi nyatanya dia dapat menghidupi keluarganya, nyekolahin anaknya,
beli gerobak angkringan buat usaha isterinya.. dalam kejadian tersebut
mencontohkan bahwa sosok ayah yang baik itu tidak harus punya banyak uang, gaji
yang gede, pekerjaan yang mapan, dan memiliki rumah yang megah.... tapi yang
paling penting itu adalah tanggung jawab nya, sebagai seorang ayah.
Teringat
saat Godox berkata padaku " Mbiyen pli jamane aku iseh penganten
anyar, ameh masak tempe rong iris we njaluk almarhum ibukku "
yang artinya " dulu pli pada waktu masih penganten baru, mau masak
tempe dua lembar aja minta ke almarhum ibu saya ". Kejadian
tersebut mengingatkanku akan orang yang tidak berani menikah karena dia bilang
belum ada modal. Dan akhirnya orang tersebut sampai sekarang di umur 44 tahun
belum menikah juga. Ya mungkin karena dia masih merasa belum mampu untuk mengadakan resepsi yang mewah.
Dari
perkataan Godox tentang tempe dua lembar, dapat aku lihat secara nyata
ketulusan jalinan cinta mereka. Di sisi seorang isteri, Dia adalah contoh
seorang wanita hebat dan langka ditemukan di jaman saat ini. Karena kebanyakan
wanita saat ini bertipe gengsi tinggi. Tapi aku mendukung kepada kamu - kamu
yang berpikiran materialistis. Karena logikanya memang benar. Hanya aku
menyarankan tetap pintar dalam menyeleksi calon suami, karena seorang pepatah
dari timur tengah mengatakan, " seorang pria semakin kaya semakin
nakal". Tetapi tidak semua lelaki kayak gitu. Jadi pintar - pintarlah kamu
dalam menilai, sehingga tidak menyesal kedepannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar