Sabtu, 08 Oktober 2016

Harmonis Nggak Harus Mewah



Rise up this morning, smiled with the risin sun.. three little birds. Sebuah lagu dari alm Bob Marley mengawali pagi ku yang penuh gairah. Hari ini, sabtu pukul 09.45 kumenunggu kedatangan temanku yang berjanji mau ngasih aku pekerjaan di pagi ini. Dengan seglintir lamunan kuteringat tugas dari salah satu dosen ku yang membuatku untuk membuka aplikasi memo di hape. Dan baru beberapa menit kumenunggu akhirnya temanku datang dan kita gaspol menuju TKP. 


Jujur aja ini pengalaman pertama ku untuk bekerja sebagai service AC. Tapi gamasalah, hitung - hitung buat nambah pengalaman dan ilmu baru. Setelah sampai tempat dimana lima AC yang harus kuperbaiki. Yaitu sebuah kost putra dimana hanya anak orang kaya yang mampu menyewa sebuah kamar disini. Tak perlu kujelaskan secara detail seperti apa yang ku kerjakan, yang jelas nyari duit itu nggak ada yang tidak membutuhkan perjuangan.


Sedikit pengalaman kerja yang udah aku telusuri. Dari tukang parkir, las karbit, nyablon, courier mengikuti berbagai macam event dan masih banyak. yang penting dapet duit gitu lah. Semua itu aku lakukan pada awal masuk di bangku kelas dua SMK setelah diriku mempunyai keinginan untuk melanjutkan jenjang studi ke perguruan tinggi. Karena jika aku sudah mulai masuk ke dunia perkuliahan, aku pasti membutuhkan yang namanya kendaraan pribadi. Kemudian dengan prinsip " If you want it, work for it " akhirnya sebulan sebelum masuk kuliah target tercapai. Kubeli motor second untuk melengkapi kebutuhan transportasi. Aku tidak pernah malu dengan apa yang telah aku lakukan, selama itu tidak merugikan orang lain aku sih enjoy aja. Dan aku merasa beruntung mempunyai orang tua yang selalu mendukung apapun pekerjaan yang aku lakukan asalkan itu halal. 

Lalu pada jam 10.15 aku sampai di TKP. Aku melakukannya dengan seorang temanku yang berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun. Sebut saja namanya Godox. Dia memiliki isteri dan dua orang anak yang ceria. Dia adalah seorang ayah yang bisa dibilang Good Father. Karena apapun pekerjaannya akan dia lakukan, agar dia dapat menafkahi keluarganya. Memang sih upah yang didapatkan tidak sebanyak gaji PNS, tapi nyatanya dia dapat menghidupi keluarganya, nyekolahin anaknya, beli gerobak angkringan buat usaha isterinya.. dalam kejadian tersebut mencontohkan bahwa sosok ayah yang baik itu tidak harus punya banyak uang, gaji yang gede, pekerjaan yang mapan, dan memiliki rumah yang megah.... tapi yang paling penting itu adalah tanggung jawab nya, sebagai seorang ayah.


Teringat saat Godox berkata padaku " Mbiyen pli jamane aku iseh penganten anyar, ameh masak tempe rong iris we njaluk almarhum ibukku " yang artinya " dulu pli pada waktu masih penganten baru, mau masak tempe dua lembar aja minta ke almarhum ibu saya ". Kejadian tersebut mengingatkanku akan orang yang tidak berani menikah karena dia bilang belum ada modal. Dan akhirnya orang tersebut sampai sekarang di umur 44 tahun belum menikah juga. Ya mungkin karena dia masih merasa belum mampu untuk mengadakan resepsi yang mewah. 


Dari perkataan Godox tentang tempe dua lembar, dapat aku lihat secara nyata ketulusan jalinan cinta mereka. Di sisi seorang isteri, Dia adalah contoh seorang wanita hebat dan langka ditemukan di jaman saat ini. Karena kebanyakan wanita saat ini bertipe gengsi tinggi. Tapi aku mendukung kepada kamu - kamu yang berpikiran materialistis. Karena logikanya memang benar. Hanya aku menyarankan tetap pintar dalam menyeleksi calon suami, karena seorang pepatah dari timur tengah mengatakan, " seorang pria semakin kaya semakin nakal". Tetapi tidak semua lelaki kayak gitu. Jadi pintar - pintarlah kamu dalam menilai, sehingga tidak menyesal kedepannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar