Sabtu, 08 Oktober 2016

Tidak Berangkat Karena Malu Terlambat, Lebih Memalukan dari Terlambat.


Diatas kasur tua aku bangun dari tidurku, ketika kulihat jam dinding menunjukkan pukul 7.30 AM. Seketika terucap dari mulutku " jancuk! modyar aku !" Yang artinya " Sial! Mati aku! “. Tanpa acara ngumpulin nyawa, dengan celana jeans rock n roll sobek - sobek yang masih ku kenakan, ku menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi gak kepikiran untuk mandi. Kemudian tanpa nyari baju di almari, ku kenakan baju batik yang tercantol di paku tembok kamar ku. 

Ketika ku melihat kaca dan sambil merapikan rambut macho ku, dalam hati ku menggumam " Berangkat gk ya... Udah jam segini nanti gaboleh absen percuma dong “. Ah tapi ini salah satu mata kuliah yang ku sukai “, karena mata kuliah ini aku jadi mengerti lebih dalam rasa yang selama ini aku pertanyakan. Pada saat itu mata kuliah Ilmu Sosial Dan Budaya yang akan aku pelajari. Ternyata rasa yang sering ku bincangkan dengan temanku ini ada ilmu nya. Dengan mata kuliah ini aku lebih mengetahui teori nya lebih dalam lagi. lalu aku memutuskan untuk mencoba untuk berangkat. Masalah nanti tidak diperbolehkan masuk, yaudah tinggal pulang terus tidur lagi. Dan kalo nanti boleh masuk tapi tidak boleh mengisi absen gapapa lahh, karena absen penuh tanda tangan bukan tujuan utama ku masuk perguruan tinggi, melainkan karena aku merasa manusia bodoh yang ingin mencari ilmu dan pengetahuan lebih banyak lagi. Pada pukul 07.40 ku bergegas dan tancap gas otw kampus dengan kecepatan seratus.

Ketika jalanan macet dan aku mengambil di sisi kanan jalan mau nerobos lampu merah yang biasanya sih aman - aman aja. Eh ternyata pada saat udah melewati barisan terdepan, kulihat ada pak polisi yang berdiri di pinggir jalan yang masih memperhatikan arah yang lain. Karena posisi nya pada saat itu kalo ngrem jelas ga sampai, pemikiran cepatku menyuruh agar tetap menerobos dan pura - pura tidak melihat kalo disitu ada polisi yang sedang mengawasi. Kemudian setelah kulewati dia yang berbadan tegap berisi kudengar dia berteriak keras " Woi!" Ku tengok dia dan pak polisi memaki ku lagi " Matamu nengdi ! " yang artinya " " matamu ditaruh mana ! “.” Maaf pak saya tidak tahu “, jawabku dengan nada halus sopan dan santun. Lalu pak polisi menghampiriku dan berkata " Kamu liat tidak itu yang lain pada berhenti ! ", " iya pak saya minta maaf  ".Ketika lampu hijau sudah menyala dan semua kendaraan melaju ke arahku. Dengan nada rendah dari sebelumnya pak polisi bilang ke aku,” Tidak usah terburu - buru, nanti kalau kecelakaan yang rugi kamu sendiri “. seketika hatiku terenyuh setelah mendengar nasihat darinya. Kujawab " nggih pak, kulo nyuwun ngapuro " yg artinya " iya pak, saya minta maaf " lalu sambil action liat jam tangan. Kemudian polisi tersebut menyuruhku melanjutkan perjalanan, tanpa denda ataupun tilang. 

Disini kudapati polisi yang baik hati, tidak seperti yang orang - orang katakan bahwa polisi itu mata duitan, koruptor dsb. Tidak dapat dimungkiri memang ada polisi yang seperti itu, tapi tidak semua. Buktinya, aku ngelanggar peraturan dan gak dimintain duit wkwk malah dikasih perhatian lebih daripada pacarku. Dan sepertinya aku mulai jatuh cinta sama kamu pak. 


Sesampainya di kampus, aku lari ditangga sambil ngebayangin bahwa aku adalah Cristiano Ronaldo yang lagi latihan sprint tangga. Ketika ku memasuki ruang kelas dan bilang " permisi pak " dengan senyum beliau memotong perkataanku " iya silahkan masuk " " Maaf pak saya bangun kesiangan ", " tidak apa apa, ini malah bagus udah brani jujur ". Kulihat jam di dinding kelas tepat puk 08.05, padahal kelas sudah dimulai satu jam sebelumnya. Dan aku mulai menyesuaikan diri untuk mengikuti pelajaran ini hingga selesai dan aku masih diperbolehkan untuk mengisi absen. 

Pada cerita diatas, pelajaran yang saya dapatkan adalah dimana kita tidak akan pernah tahu jawaban yang sebenarnya jika hanya mengira - ngira atau memikirkannya saja. Karena terkadang apa yang ada di dalam fikiran kita tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Dan tentang masalah polisi.. maaf pak saya khilaf hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar